Senin, 16 November 2015

Bell's palsy

A. PENGERTIAN


     Bell’s palsy adalah paralisis wajah unilateral yang timbul mendadak akibatlesi nervus fasialis dan mengakibatkan distorsi wajah yang khas. Dengan kata lainBell’s palsy merupakan suatu kelainan pada saraf wajah yang menyebabkankelemahan atau kelumpuhan tiba-tiba pada otot di satu isi wajah.
Istilah Bell’spalsy biasanya digunakan untuk kelumpuhan nervus VII jenis perifer yang timbulsecara akut. Kebanyakan orang belum mengetahui nama dari panyakit ini.
Sir Charles Bell seorang ilmuan dari Skotlandia yang pertama kali menemukan penyakit ini pada abad ke-19.

B.Patofisiologi
Para ahli menyebutkan bahwa pada Bell’s palsy terjadi proses inflamasi akut pada nervus fasialis di daerah tulang temporal, di sekitar foramen stilomastoideus. Bell’s palsy hampir selalu terjadi secara unilateral. Namun demikian dalam jarak waktu satu minggu atau lebih dapat terjadi paralysis bilateral. Penyakit ini dapat berulang atau kambuh. Patofisiologinya belum jelas, tetapi salah satu teori menyebutkan terjadinya proses inflamasi pada nervus fasialis yang menyebabkan peningkatan diameter nervus fasialis sehingga terjadi kompresi dari saraf tersebut pada saat melalui tulang temporal.
Perjalanan nervus fasialis keluar dari tulang temporal melalui kanalis fasialis yang mempunyai bentuk seperti corong yang menyempit pada pintu keluar sebagai foramen mental. Dengan bentukan kanalis yang unik tersebut, adanya inflamasi, demyelinisasi atau iskemik dapat menyebabkan gangguan dari konduksi. Impuls motorik yang dihantarkan oleh nervus fasialis bisa mendapat gangguan di lintasan supranuklear dan infranuklear. Lesi supranuklear bisa terletak di daerah wajah korteks motorik primer atau di jaras kortikobulbar ataupun di lintasan asosiasi yang berhubungan dengan daerah somatotropik wajah di korteks motorik primer. Karena adanya suatu proses yang dikenal awam sebagai “masuk angin” atau dalam bahasa inggris “cold”. Paparan udara dingin seperti angin kencang, AC, atau mengemudi dengan kaca jendela yang terbuka diduga sebagai salah satu penyebab terjadinya Bell’s palsy. Karena itu nervus fasialis bisa sembab, ia terjepit di dalam foramen stilomastoideus dan menimbulkan kelumpuhan fasialis LMN. Pada lesi LMN bisa terletak di pons, di sudut serebelo-pontin, di os petrosum atau kavum timpani, di foramen stilomastoideus dan pada cabang-cabang tepi nervus fasialis. Lesi di pons yang terletak di daerah sekitar inti nervus abdusens dan fasikulus longitudinalis medialis. Karena itu paralisis fasialis LMN tersebut akan disertai kelumpuhan muskulus rektus lateralis atau gerakan melirik ke arah lesi. Selain itu, paralisis nervus fasialis LMN akan timbul bergandengan dengan tuli perseptif ipsilateral dan ageusia (tidak bisa mengecap dengan 2/3 bagian depan lidah). Berdasarkan beberapa penelitian bahwa penyebab utama Bell’s palsy adalah reaktivasi virus herpes (HSV tipe 1 dan virus herpes zoster) yang menyerang saraf kranialis. Terutama virus herpes zoster karena virus ini menyebar ke saraf melalui sel satelit. Pada radang herpes zoster di ganglion genikulatum, nervus fasialis bisa ikut terlibat sehingga menimbulkan kelumpuhan fasialis LMN.


Kelumpuhan pada Bell’s palsy akan terjadi bagian atas dan bawah dari otot wajah seluruhnya lumpuh. Dahi tidak dapat dikerutkan, fisura palpebra tidak dapat ditutup dan pada usaha untuk memejam mata terlihatlah bola mata yang berbalik ke atas. Sudut mulut tidak bisa diangkat. Bibir tidak bisa dicucukan dan platisma tidak bisa digerakkan. Karena lagophtalmos, maka air mata tidak bisa disalurkan secara wajar sehingga tertimbun disitu.

C. Etiologi
Penyebab dari penyakit ini belum diketahui secara pasti tetapi dapat didugabahwa penyebab dari penyakit ini adalah karena saraf yang mengendalikan otot wajah membengkak, terinfeksi, atau mampat karena aliran darah berkurang.
Adapula para ahli yang menyatakan bahwa pada kasusBell’s palsy terjadi prosesinflamasi akut pada nervus fasialis di daerah tulang temporal, di sekitar foramenstilomastoideus

D. Gejala dan Tanda Klinik
Pada awalnya, penderita merasakan ada kelainan di mulut pada saat banguntidur, menggosok gigi atau berkumur, minum atau berbicara. Mulut tampak mencong terlebih saat meringis, kelopak mata tidak dapat dipejamkan (lagoftalmos), waku penderita menutup kelopak matanya maka bola mata akan tampak berputar ke atas. Penderita tidak dapat bersiul atau meniup, apabila berkumur maka air akan keluar sisi melalui sisi mulut yang lumpuh.

E. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan menurut gejalanya. Bell’s palsy selalu mengenai satusisi wajah, kelemahannya tiba-tiba dan dapat melibatkan baik bagian atas ataubagian bawah wajah. Penyakit lain yang juga dapat menyebabkan kelumpuhan saraf wajah adalah
1. Tumor otak yang menekan saraf 
2. Kerusakan saraf wajah karena infeksi virus (misalnya sindroma Ramsay Hunt )
3. Infeksi telinga tengah atau sinus mastoideus
4. Penyakit Lyme
5. Patah tulang di dasar tengkorak
Untuk membedakan Bell's palsy dengan penyakit tersebut, bisa dilihat dari riwayat penyakit, hasil pemeriksaan rontgen, CT scan atau MRI. Pada penyakit Lyme perlu dilakukan pemeriksaan darah.t

F. Terapi
Terapi pertama yang harus dilakukan adalah penjelasan kepada penderitabahwa penyakit yang mereka derita bukanlah tanda stroke, hal ini menjadi pentingkarena penderita dapat mengalami stress yang berat ketika terjadi salah pengertian.  Setelah itu dapat dilakukan beberapa terapi yang meliputi:
a. Penanganan mata
Bagian mata harus mendapatkan perhatian khusus dan harus dijaga agar tetap lembab, hal tersebut dapat dilakukan dengan pemberian pelumas matasetiap jam sepanjang hari dan salep mata harus digunakan setiap malam
b. Kortikosteroid
Selain itu, dari tinjauan terbaru menyimpulkan bahwa pemberiankortikosteroid dalam tujuh hari pertama efektif untuk menangani Bell’s palsy.
c. Latihan wajah
Komponen lain yang tidak kalah pentingnya dalam optimalisasi terapiadalah latihan wajah. Latihan ini dilakukan minimal 2-3 kali sehari, akan tetapikualitas latihan lebih utama daripada kuantitasnya. Sehingga latihan wajah ini harus dilakukan sebaik mungkin. Pada fase akut dapat dimulai dengan kompres hangat dan pemijatan pada wajah, hal ini berguna meningkatkan aliran darah pada otot-otot wajah. Kemudian latihan dilanjutkan dengan gerakan-gerakan wajah tertentu yang dapat merangsang otak untuk tetap member sinyal untuk menggerakkan otot-otot wajah. Sebaiknya latihan ini dilakukaan di depan cermin. Gerakan yang dapat dilakukan :
1.  Diam
2.  Mengerutkan dahi
3.  Mengangkat alis
4.  Memutar bola mata
5.  Menutup mata dengan kuat sampai tertutup dan membukanya dengan kencang.
6.  Mencucukan mulut kemudian bersiul
7.  Menggembungkan pipi
8.  Tersenyum
G. Gejala Sisa
            Setelah melakukan terapi tersebut sebagian penderita akan sembuh total dan sebagian akan meninggalkan gejala sisa yang dapat berupa.
a.       Kontraktur
Hal ini dapat terlihat dari tertariknya otot, sehingga plika nasolabialis lebih jelas terlihat dibandign pada sisi yang sehat. Bagi pemeriksa yang belum berpengalamn mungkin bagian yang sehat. Bagi pemeriksa yang belum berpengaruh mungkin bagian yang sehat ini yang disangkanya lumpuh, sedangkan bagian yang lumpuh disangkanya sehat.
b.      Sinkinsesia
Dalam hal ini otot-otot tidak dapat digerakkan satu per satu atau tersendiri, selalu timbul gerakan bersama. Bila pasien disuruh memejamkan mata, maka otot orbikularis orispun akan ikut berkontraksi dan sudut mulut terangkat. Bila ia disuruh menggembungkan pipi, kelopak mata ikut merapat.
c.       Spasme spontan
Dalam hal ini otot-otot wajah bergerak secara spontan, tidak terkendali. Hal ini disebut juga tic facialis, akan tetapi tidak semua merupakan gejala sisa dari Bell’s palsy.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar